BANDAR LAMPUNG, TIPIKOR NEWS — Kepolisian Daerah (Polda) Lampung resmi memasuki babak kepemimpinan baru. Berdasarkan surat mutasi tertanggal 10 Oktober 2026, Brigjen Pol. Yustan Alpiani, S.I.K., S.H., M.Hum. dipercaya menjabat sebagai Kapolda Lampung menggantikan Irjen Pol. Helfi Assegaf yang dimutasi menjadi Perwira Tinggi (Pati) Bareskrim Polri dalam rangka penugasan di luar struktur organisasi Polri.

Gantian tampuk kepemimpinan di tubuh Polri memang hal yang lumrah. Namun, kehadiran Yustan Alpiani alumni Akpol 1992 Batalyon Pratisara Wirya membawa sorotan khusus mengingat portofolio karier dan gelar akademisnya yang begitu mentereng.

Mengantongi gelar Sarjana Ilmu Kepolisian (S.I.K.), Sarjana Hukum (S.H.), dan Magister Humaniora (M.Hum.), Yustan dikenal sebagai perwira penyidik berbekal pendidikan tinggi lulusan STIK-PTIK, Sespimmen, hingga Sespimti Polri.

Sepanjang kariernya, ia mencatatkan sejumlah prestasi penegakan hukum dan investigasi yang terbilang menonjol:

Pemberantasan Mafia Tanah: Saat menjabat Inspektur Bidang Investigasi Kementerian ATR/BPN (2020–2022), ia menunjukkan tindakan tegas tanpa pandang bulu dengan menjatuhkan hukuman disiplin serta memproses hukum 10 pejabat jajaran Kanwil BPN DKI Jakarta yang terbukti bersekongkol dengan mafia tanah dalam sengketa lahan besar di Cakung Barat, Jakarta Timur. Pengalaman ini melengkapi kapasitasnya yang telah dibangun sejak menjabat Dirreskrimsus Polda Kaltim.

Kasus Lingkungan Hidup: Selaku Dirreskrimsus Polda Kaltim (2017–2018), Yustan memimpin penyidikan berskala besar terkait pencemaran lingkungan akibat putusnya pipa minyak bawah laut PT Pertamina (Persero), hingga menetapkan nakhoda kapal kargo MV Ever Judger sebagai tersangka utama dan menuntaskan perkaranya di pengadilan.

Pengungkapan Kriminalitas Menonjol: Saat menjabat Dirreskrimum Polda Sumsel (2018–2020), ia memimpin langsung pengungkapan kasus pembunuhan berencana terhadap seorang ASN Kementerian PUPR yang jasadnya ditemukan terkubur dalam coran semen di TPU Kandang Kawat, Palembang.

Sisi Humanis: Di luar tugas reserse, ia juga dikenal berjiwa sosial tinggi, salah satunya saat menggalang bantuan logistik skala besar bersama Unit Resmob untuk membantu pengungsi korban banjir bandang di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.

Setelah menjabat sebagai Widyaiswara Kepolisian Utama Tingkat II di Sespim Lemdiklat Polri (2022–2026), kini Yustan kembali ke garis depan kepemimpinan kewilayahan sebagai Kapolda Lampung.

Portofolio yang mengesankan tersebut tentu menjadi nilai plus di atas kertas. Namun, publik Lampung diingatkan untuk tidak terbuai oleh deretan gelar maupun catatan prestasi masa lalu.

Pertanyaan utamanya kini: Seberapa efektif rekam jejak mentereng tersebut saat dihadapkan pada realitas kompleksitas kejahatan di Bumi Ruwa Jurai?

Ujian Konsistensi Menghadapi Sengketa Lahan Sebagai daerah strategis dengan aktivitas perkebunan, industri, dan pembangunan yang masif, Lampung kerap diwarnai konflik agraria serta dugaan permainan spekulan lahan.

Pengalaman Yustan di Kementerian ATR/BPN akan diuji secara nyata: apakah ia mampu memberantas jaringan mafia tanah lokal tanpa tebang pilih, atau justru melunak saat berhadapan dengan kepentingan elit?

Menekan Kriminalitas dan Kejahatan Jalanan Karakteristik kerawanan di Lampung—seperti tindak pencurian dengan kekerasan (begal), kejahatan jalanan, hingga peredaran gelap narkoba—membutuhkan penanganan tegas, responsif, dan terukur.

Pengalaman reserse Yustan dituntut menghasilkan strategi pencegahan dan penindakan yang berdampak langsung pada rasa aman masyarakat.

Integritas Internal dan Transparansi Service Publik Lama berkiprah di lembaga pendidikan kepolisian (Sespim), Yustan membawa ekspektasi perbaikan kultur profesionalisme di jajaran Polda Lampung.

Kepemimpinannya akan dinilai dari sejauh mana ia mampu menindak oknum internal yang menyalahgunakan wewenang serta memastikan proses hukum berjalan transparan.

Rekam jejak dan kredensial akademik Brigjen Pol. Yustan Alpiani memberikan modal awal yang sangat kuat. Akan tetapi, masyarakat Lampung tidak membutuhkan sekadar profil impresif di lembar biodata.

Keberhasilan kepemimpinan Kapolda baru akan diukur dari tindakan nyata, kepastian hukum, dan hadirnya rasa aman di tengah masyarakat. (RED)