BANDAR LAMPUNG, TIPIKOR NEWS — Manajemen Rumah Sakit Umum Daerah dr. H. Abdul Moeloek (RSUDAM) Provinsi Lampung kembali menjadi sorotan tajam publik.

Di tengah beratnya tugas para tenaga kesehatan (nakes) yang harus berjuang di garis depan pelayanan medis, hak finansial mereka justru dikabarkan mandek hingga lima bulan lamanya.

Krisis kepercayaan ini bermula ketika keluhan terbuka para pegawai viral di media sosial dan grup percakapan internal pada akhir September 2026. Para pegawai mengeluhkan tertundanya pembayaran Jasa Pelayanan (Jaspel), insentif, hingga iuran BPJS.

Kemarahan publik semakin memuncak karena anggaran operasional non-medis tertentu diduga lebih diistimewakan dibandingkan dengan pemenuhan hak dasar para tenaga medis.

Menanggapi sorotan tersebut, Direktur RSUDAM Lampung, Imam Ghozali, memberikan klarifikasi melalui rekaman wawancara.

Ia menyatakan bahwa pihak manajemen memiliki komitmen dengan niat baik untuk menyelesaikan seluruh pembayaran hak pegawai yang sempat tertunda.

Menurutnya, dari total kewajiban pembayaran yang tidak terbayar pada tahun 2025, pihak manajemen telah merealisasikan pelunasan hingga lebih dari 80% per Agustus ini, sehingga sisa kewajiban yang belum dibayarkan tinggal menyisakan sekitar 20%.

Berikut adalah transkripsi suara dari video wawancara di akun tiktok Tribun yang diunggah Selasa (29/9/2026) tersebut:

“Kami punya kewajiban dan kami komit dengan niat baik untuk menyelesaikan semua pembayaran. Dan dari sekian miliar yang di tahun 2025 tidak terbayar, alhamdulillah sampai dengan Agustus ini sudah lebih dari 80%, sehingga tersisa 20% lah.”

Alih-alih meredakan ketegangan, penjelasan dan klaim pelunasan yang disampaikan oleh Direktur RSUDAM tersebut justru memicu gelombang kritik pedas, kecaman, serta cibiran dari netizen.

Berdasarkan kolom komentar pada unggahan video wawancara tersebut, klarifikasi pihak manajemen mentah-mentah disorot tajam oleh publik:

• Tudingan Bohong dan Sindiran Pedas: Sebagian besar warganet secara terbuka meragukan kebenaran klaim manajemen dan melontarkan tuduhan langsung dengan menyebut pernyataan tersebut sebagai “bohong”, “ngibul”, hingga “hoax”.

• Ekspresi Ejekan dan Keraguan: Kolom komentar dipenuhi dengan respons sinis, seperti pertanyaan retoris “yang benar pak??”, “aahhh masa siiiih”, serta celetukan singkat bernada meremehkan seperti “preeeeet” dan “macet”.

• Empati untuk Nakes dan Sorotan Pelayanan: Warganet turut menyuarakan keprihatinan mendalam atas nasib nakes yang bekerja dengan tulus mengurus nyawa manusia tetapi kesejahteraannya diabaikan. Isu ini juga dikaitkan dengan buruknya fasilitas pelayanan, termasuk keluhan obat-obatan rumah sakit yang sering kosong sehingga pasien terpaksa membeli obat di luar dengan harga mahal.

• Kecurigaan Anggaran dan Peringatan Moral: Publik mendesak transparansi anggaran secara menyeluruh, dengan sebagian netizen melontarkan kecurigaan adanya pengendapan dana, masalah korupsi menahun, hingga menyematkan peringatan spiritual agar pimpinan rumah sakit tidak berbuat zalim kepada bawahannya.

Polemik ini menunjukkan bahwa krisis di RSUDAM Lampung telah berubah menjadi isu krisis kepercayaan publik yang mendalam, menuntut ketegasan serta transparansi nyata dari pihak manajemen dan pemerintah daerah terkait. (RED)