ITERA Jor-Joran: Taman dan Kebersihan Rp 7,1 Miliar
LAMPUNG SELATAN, TIPIKOR NEWS — Kalau rumput bisa bicara, mungkin rumput di Kampus Institut Teknologi Sumatera (ITERA) sudah bilang: “Terima kasih negara!
Bagaimana tidak? Berdasarkan data pengadaan yang menjadi bahan penelusuran, Rp3.132.216.000 dari APBN 2026 dialokasikan untuk paket Outsourcing Pertamanan di ITERA.
Tiga koma satu miliar rupiah. Untuk urusan pertamanan. Tentu kampus membutuhkan taman yang rapi. Rumput perlu dipotong, pohon harus dirawat, lingkungan harus nyaman.
Tapi ketika nilainya mencapai Rp3,13 miliar, pertanyaan publik menjadi sah:
Sebesar apa sebenarnya taman ITERA sampai membutuhkan anggaran miliaran rupiah?
Persoalannya bukan apakah taman perlu dirawat. Persoalannya adalah kewajaran anggarannya.
Paket tersebut tercatat dengan kode RUP 01KDQ7GWMVBYB87EGNHV8A3M3M, kode paket 62437742, sumber dana APBN 2026, dengan penyedia BANGUNPAPAN IDAMAN melalui E-Katalog Versi 6.0.
Statusnya disebut sedang dalam proses kontrak. Artinya, masih ada ruang untuk publik meminta penjelasan sebelum uang negara benar-benar mengalir berdasarkan kontrak tersebut.
Berapa luas taman yang akan dirawat?
Berapa jumlah pekerjanya?
Berapa lama masa kontraknya?
Berapa komponen upah?
Berapa biaya perawatan?
Dan bagaimana angka Rp3,13 miliar itu dihitung?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan tuduhan. Itu pertanyaan dasar ketika uang publik digunakan.
ITERA dibangun sebagai kampus yang membawa misi sains dan teknologi. Maka publik tentu berharap APBN yang masuk ke kampus tersebut memperkuat pendidikan, penelitian dan inovasi.
Laboratorium membutuhkan alat. Mahasiswa membutuhkan fasilitas. Peneliti membutuhkan dukungan. Inovasi membutuhkan anggaran.
Namun ketika satu paket pertamanan saja mencapai Rp3,13 miliar, wajar jika publik bertanya apakah komposisi belanjanya sudah benar-benar mencerminkan prioritas kampus teknologi.
Jangan sampai rumput lebih cepat mendapatkan anggaran daripada laboratorium.
Pertanyaan semakin menarik jika angka ini dilihat bersama paket operasional lainnya.
Dalam data yang menjadi bahan penelusuran, ITERA juga mencatat paket Outsourcing Petugas Kebersihan senilai Rp4.039.060.000.
Jika kedua paket tersebut dijumlahkan, nilainya mencapai: Rp7.171.276.000. Dan penyedianya tercatat sama, yakni BANGUNPAPAN IDAMAN.
Dua paket. Pertamanan dan kebersihan. Total Rp7,17 miliar. Publik tentu berhak meminta penjelasan mengenai kewajaran harga, volume pekerjaan, jumlah tenaga kerja, durasi kontrak serta mekanisme pengadaannya.
Sebab E-Katalog adalah sarana pengadaan.
Bukan kartu bebas pertanyaan.
JANGAN HANYA HIJAU TAMANNYA. Kalau memang Rp3,13 miliar tersebut wajar, jelaskan perhitungannya. Kalau memang efisien, tunjukkan volumenya.
Kalau memang pekerjanya mendapatkan hak yang layak, pastikan anggaran tersebut benar-benar memberikan manfaat sampai ke lapangan.
Karena yang harus hijau bukan cuma rumput. Akuntabilitas juga harus hijau. Yang harus bersih bukan cuma halaman kampus.
Pengelolaan uang rakyat juga harus bersih dan transparan. Rp3,13 miliar mungkin hanya satu baris dalam daftar pengadaan. Tetapi bagi masyarakat, itu adalah uang yang nilainya sangat besar.
Maka pertanyaan akhirnya sederhana:
ITERA sedang merawat taman, atau sedang merawat sebuah anggaran yang terlalu gemuk?
TIPIKOR NEWS membuka ruang hak jawab dan klarifikasi bagi pihak ITERA maupun BANGUNPAPAN IDAMAN terkait data, nilai pengadaan, spesifikasi pekerjaan dan seluruh pertanyaan dalam pemberitaan ini. (Tim)






Tinggalkan Balasan