Gunung Anak Krakatau Erupsi Lagi, Ini Bahaya Abu Vulkanik bagi Kesehatan
BANDAR LAMPUNG, TIPIKOR NEWS — Gunung Anak Krakatau (GAK) kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang intens. Erupsi bertipe Strombolian berlangsung sejak Jumat malam (4/9/2026), disertai lontaran lava pijar dan material vulkanik ke atmosfer.
Lontaran lava fountain dilaporkan mencapai lebih dari 500 meter di atas permukaan laut. Aktivitas erupsi juga masih disertai suara dentuman yang terpantau dari kawasan gunung api tersebut.
Yang perlu menjadi perhatian bukan hanya aktivitas letusannya. Abu vulkanik yang terbawa angin juga dapat menjadi ancaman bagi kesehatan, terutama bagi sistem pernapasan.
Berdasarkan pemantauan BMKG, sebaran abu vulkanik bergerak ke sejumlah arah. Pergerakan ke timur hingga selatan berpotensi memasuki wilayah Banten dan Jawa Barat, sedangkan arah barat daya hingga barat laut berpotensi memengaruhi sejumlah wilayah di Provinsi Lampung.
Pakar Vulkanologi sekaligus Dosen Teknik Geologi Institut Teknologi Sumatera (ITERA), Happy Christin Natalia, S.T., M.T., mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh abu vulkanik.
Menurut Happy, kandungan abu vulkanik pada dasarnya berasal dari material magma yang mengandung berbagai unsur, termasuk silika dan aluminium.
Namun, persoalan utamanya terletak pada ukuran dan bentuk partikelnya.
“Kandungan abu vulkanik umumnya sama dengan unsur yang terdapat dalam magma, seperti silika, aluminium, dan lainnya. Namun, yang paling berbahaya sebenarnya adalah bentuk partikelnya yang berukuran sangat kecil dan bersudut tajam, sehingga dapat mengiritasi atau melukai saluran pernapasan,” ujar Happy, dilansir itera.ac.id, Sabtu (5/9/2026).
Partikel abu yang sangat halus dapat terhirup ketika seseorang berada di lingkungan yang terpapar abu vulkanik. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan, terutama apabila paparan terjadi dalam konsentrasi tinggi atau dalam waktu lama.
Karena itu, masyarakat di wilayah yang berpotensi terdampak disarankan tidak melakukan aktivitas luar ruangan yang tidak mendesak ketika abu vulkanik mulai turun.
Masyarakat juga diminta menggunakan masker saat harus beraktivitas di luar rumah. Langkah sederhana ini penting untuk mengurangi paparan langsung terhadap partikel abu.
Selain itu, pintu dan jendela rumah sebaiknya ditutup ketika abu mulai masuk ke lingkungan permukiman.
Yang tidak kalah penting, masyarakat diminta tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau dan selalu mengikuti radius serta rekomendasi keselamatan yang ditetapkan pihak berwenang.
Jangan Panik, Tapi Tetap Waspada
Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau terus memantau perkembangan aktivitas vulkanik, termasuk rangkaian letusan dan suara dentuman yang masih terjadi.
Masyarakat diminta tetap tenang dan tidak mudah mempercayai informasi yang beredar di media sosial tanpa sumber yang jelas.
Informasi mengenai aktivitas gunung api dan potensi sebaran abu sebaiknya diperoleh dari kanal resmi PVMBG dan BMKG.
Erupsi Gunung Anak Krakatau menjadi pengingat bahwa ancaman bencana bukan hanya berasal dari letusan besar. Material vulkanik yang terbawa angin pun dapat memberikan dampak terhadap masyarakat di wilayah yang jauh dari pusat erupsi.
Waspada bukan berarti panik. Kenali bahayanya, lindungi pernapasan, dan ikuti informasi resmi. (*)






Tinggalkan Balasan