JAKARTA, TIPIKOR NEWS — Rektor Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung (UIN RIL), Prof. H. Wan Jamaluddin Z., M.Ag., Ph.D., menyampaikan sambutan hangat serta apresiasi mendalam atas terpilihnya Menteri Agama Republik Indonesia sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., sebagai Presiden pertama The International Assembly of Mosque Imams (IAMI).

Organisasi internasional IAMI lahir berdasarkan kesepakatan para imam besar dari berbagai negara dalam rangkaian International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 yang diselenggarakan di Jakarta.

Organisasi ini dirancang untuk berfungsi sebagai wadah permanen bagi para imam dunia guna memperkuat kerja sama, diplomasi keagamaan, perdamaian, serta mengoptimalkan peran strategis masjid dalam pemberdayaan masyarakat.

“Kami keluarga besar UIN Raden Intan Lampung menyampaikan selamat dan rasa bangga atas terpilihnya Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., sebagai Presiden pertama IAMI. Amanah ini bukan hanya merupakan kepercayaan kepada beliau secara pribadi, tetapi juga menunjukkan pengakuan terhadap peran strategis Indonesia dalam membangun kehidupan keagamaan yang moderat, harmonis, dan berorientasi pada perdamaian dunia,” ujar Prof. Wan Jamaluddin di Jakarta, Senin (28/9).

Menurut Rektor, terpilihnya Prof. Nasaruddin Umar membawa makna strategis bagi Indonesia sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar yang memiliki pengalaman panjang dalam mengelola kemajemukan masyarakat. Modal sosial serta pengalaman keberagamaan tersebut diyakini mampu memberikan kontribusi nyata dalam penguatan dialog dan perdamaian di tingkat global.

Lebih lanjut, ia menilai momentum ini penting guna memperkenalkan wajah Islam Indonesia yang ramah, moderat, inklusif, serta terbuka untuk berdialog dengan berbagai budaya dan peradaban. Kepemimpinan Prof. Nasaruddin Umar di IAMI diharapkan mampu membawa pengalaman keberagamaan Indonesia ke panggung dunia serta mentransformasikan fungsi masjid sebagai pusat pembangunan peradaban, bukan sekadar tempat pelaksanaan ibadah ritual.

Pembentukan IAMI juga dinilai selaras dengan kebutuhan masyarakat global saat ini dalam menghadapi berbagai konflik, polarisasi sosial, persoalan kemanusiaan, hingga tantangan lingkungan.

Melalui ruang strategis ini, para pemimpin keagamaan dari berbagai belahan dunia dapat membangun komunikasi yang kuat serta memperkuat religious diplomacy (diplomasi keagamaan).

Dari sisi akademis, terbentuknya IAMI membuka peluang luas bagi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI), termasuk UIN Raden Intan Lampung, untuk memperkuat jejaring akademik dan kerja sama internasional.

Perguruan tinggi diharapkan dapat mengambil peran aktif melalui riset, pengembangan pemikiran keislaman, pendidikan imam dan dai, kajian moderasi beragama, hingga program pengabdian kepada masyarakat.

Langkah ini sejalan dengan komitmen UIN Raden Intan Lampung yang terus menggenjot internasionalisasi sebagai pilar pengembangan institusi, guna menghadirkan pendidikan tinggi Islam yang unggul secara akademik dan berkontribusi langsung pada penyelesaian persoalan kemanusiaan baik di tingkat nasional maupun global.

“Kami berharap ke depan terbuka ruang kolaborasi antara IAMI dengan perguruan tinggi Islam, termasuk UIN Raden Intan Lampung. Kampus dapat memberikan dukungan dari sisi akademik, riset, pengembangan sumber daya manusia, hingga penguatan gagasan tentang masjid sebagai pusat pendidikan, pemberdayaan umat, dan pembangunan peradaban,” pungkas Prof. Wan Jamaluddin. (Red)