LAMPUNG SELATAN, TIPIKOR NEWS — Gemuruh dahsyat yang pernah menggoncang dunia pada musim panas 1883 itu tidak lagi menyisakan duka, melainkan bertransformasi menjadi gelombang pesona yang memukau panggung nasional.

Di bawah sorotan lampu megah Ruang Garuda 5 AB, Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten, Jumat malam (28/8), Kabupaten Lampung Selatan mengukir sejarah legendaris.

Lewat helatan bergengsi Lomba Fashion Show Wastra Nusantara pada Apkasi Otonomi Expo (AOE) 2026, takdir kemenangan berpihak sepenuhnya kepada tanah di kaki Krakatau. Diiringi ketegangan yang membumbung tinggi, deretan karya kain adat dari seluruh penjuru Nusantara unjuk keanggunan.

Namun, ketika para peraga busana Lampung Selatan melangkah dengan balutan mahakarya bertema “Spirit of Krakatoa”, atmosfer arena mendadak berubah.

Kilau benang emas yang ditenun dengan jiwa, dipadukan dengan desain yang gagah sekaligus anggun, berhasil menyihir seluruh pasang mata dewan juri dan ribuan penonton yang hadir.

Karya yang memboyong piala tertinggi ini bukan sekadar busana indah penutup raga, melainkan sebuah narasi ketangguhan yang membakar semangat.

Tema “Spirit of Krakatoa” menyuntikkan nyawa sejarah letusan dahsyat Gunung Krakatau pada 1883 ke dalam lembaran kain Tapis.

Bencana maha dahsyat yang dulu meluluhlantakkan pesisir Lampung Selatan, kini diangkat kembali sebagai filosofi paling mendalam: simbol kebangkitan, daya tahan tanpa batas, dan terbitnya harapan baru bagi masyarakatnya.

“Alhamdulillah, Lampung Selatan menang dan mendapatkan juara satu. Ini bukan sekadar piala, melainkan pecutan motivasi bagi kami untuk terus berkreasi, membawa nama daerah, dan mempersembahkan yang terbaik bagi Lampung Selatan di masa depan,” ujar Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama, di Kalianda dengan penuh rasa bangga, Sabtu (29/8).

Filosofi mendalam tersebut diterjemahkan secara jenius oleh sang maestro desainer Lampung Selatan, Dudi Pramono. Setiap helaian Tapis diselesaikan melalui ritual ketelitian yang luar biasa.

Prosedur tenun dan sulam tradisional dikerjakan secara manual tanpa celah, membutuhkan waktu dedikasi antara satu hingga tiga bulan hanya untuk menghasilkan satu lembar kain.

“Dari sebuah bencana besar menjadi sebuah harapan baru bagi kehidupan masyarakat ke depan,” tutur Dudi Pramono dengan nada bergetar penuh haru.

Ketelitian jemari para perajin tradisional Lampung Selatan terbukti mampu menyulap ingatan sejarah menjadi karya seni kelas tinggi yang bernilai ekonomi kreatif luar biasa.

Kemenangan gemilang di ajang AOE 2026 ini bukan sekadar perayaan sesaat. Pencapaian ini menegaskan bahwa warisan budaya leluhur seperti Tapis Lampung Selatan sanggup berdiri gagah menembus zaman tanpa kehilangan jati dirinya.

Langkah ini sekaligus membentang lebar karpet merah bagi para perajin, seniman, dan pelaku UMKM lokal untuk membawa keindahan Wastra Lampung Selatan menembus pasar internasional. (RED)