BANDAR LAMPUNG, TIPIKOR NEWS – Jantung Kota Bandar Lampung berdegup lebih kencang pada Minggu sore, (30/8/2026). Di bawah langit Lapangan Saburai yang membentang luas, ribuan pasang mata tiba-tiba terletak dan terkesima. Di tengah lautan manusia yang meadati arena Tapis Karnaval Lampung , sebuah barisan tampil memadukan kedamaian dengan aura megah yang sulit diabaikan: Sekretariat DPRD Provinsi Lampung

Bukan sekedar ikut meramaikan, kehadiran mereka menjelma menjadi salah satu magnet terbesar dalam penutupan megah Festival Krakatau XXXV Tahun 2026 . Mereka datang membawa pesan budaya, membungkus sejarah berabad-abad ke dalam balutan mahakarya busana modern yang menghentak panggung utama.

Suasana seketika berubah ajaib saat deretan jajaran Sekretariat DPRD Lampung melangkah melewati rute karnaval. Kain Tapis—yang selama ini sakral dan kerap tersimpan rapi dalam lemari kebanggaan—disulap melalui tangan-tengah kreatif menjadi busana adibusana (haute couture) yang bernyawa.

Benang Kilau emas berpadu selaras dengan desain busana kontemporer yang dinamis, memancarkan pesona luar biasa di bawah terik matahari sore. Penonton memamerkan sorai, gawai di tangan warga bergeming mengabadikan tiap detik momen langka tersebut. Ini bukan sekadar parade fesyen, ini adalah sebuah pernyataan cinta yang mendalam kepada tanah kelahiran.

Sekretaris DPRD Provinsi Lampung, Descatama Paksi Moeda, ST, SE, MM , memandang aksi luar biasa ini sebagai wujud komitmen hidup dari sebuah kebudayaan yang menolak tenggelam.

“Hari ini, di Lapangan Saburai, kita tidak sekadar berparade. Kita sedang meniupkan napas baru ke dalam urat nadi budaya Lampung. Keterlibatan lintas elemen membuktikan bahwa warisan ini adalah milik kita semua, dan kita punya tanggung jawab untuk membuatnya terus hidup dengan cara yang menakjubkan,” seru Descatama penuh semangat.

Menyulut Api Kebanggaan di Hati Generasi Muda

Getaran energi positif dari Lapangan Saburai ikut dirasakan oleh Ketua IKAD DPRD Provinsi Lampung, Irene Fransisca Giri, SIKom., MH Dengan mata yang berbinar menyaksikan langsung kemegahan tersebut, meluapkan kekagumannya yang mendalam.

Bagi Irene, apa yang ditampilkan oleh jajaran Sekretariat DPRD hari ini adalah bukti nyata bahwa tradisi masa lalu mampu berdiri sejajar dengan tren masa kini, bahkan tampil jauh lebih memukau.

“Sungguh pemandangan yang merindingkan sekaligus kagum. Ketika Tapis dibawakan dengan sentuhan kreativitas yang berani seperti ini, ia menjelma menjadi daya tarik yang mampu membius siapa saja—khususnya generasi muda. Ini adalah momentum kebangkitan identitas kita,” ungkap Irene penuh emosi.

Aksi panggung yang dramatis dan memukau ini sekaligus menjadi tirai penutup yang sempurna dalam rangkaian Festival Krakatau XXXV (25–30 Agustus 2026) . Kehadirannya kian terasa istimewa karena gaung perhelatan akbar ini telah diakui secara nasional melalui masuknya acara ke dalam Kharisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata.

Di Lapangan Saburai hari itu, Sekretariat DPRD Provinsi Lampung telah menuliskan cerita indah: bahwa di balik ruang-ruang sidang yang serius, tersimpan jiwa-jiwa seni yang membara, siap menjaga, merawat, dan menerbangkan nama Lampung setinggi-tingginya ke panggung dunia.

Bagaimana kesan Anda melihat transformasi kain tradisional Tapis yang disulap menjadi busana karnaval yang begitu megah dan dramatis? (RED)