Bandar Lampung, Tipikor News – Di tengah derasnya arus modernisasi dan perkembangan teknologi informasi, upaya menjaga identitas budaya daerah menjadi tantangan tersendiri. Di Provinsi Lampung, salah satu benteng penting pelestarian sejarah dan kebudayaan itu berdiri di Jalan H. Zainal Abidin Pagar Alam Nomor 64, Gedongmeneng, Bandar Lampung. Tempat itu adalah Museum Lampung Ruwa Jurai.
Bagi sebagian orang, museum mungkin hanya dipandang sebagai tempat menyimpan benda-benda kuno. Namun, Museum Lampung Ruwa Jurai memegang peran yang jauh lebih besar. Ia menjadi ruang penyimpanan memori kolektif masyarakat Lampung sekaligus sarana pendidikan yang menghubungkan generasi masa kini dengan akar sejarah dan budayanya.
Museum yang mulai dirintis sejak 1975 dan diresmikan pada 24 September 1988 tersebut menyimpan beragam koleksi yang merekam perjalanan panjang peradaban masyarakat Lampung. Mulai dari koleksi arkeologi, etnografi, numismatika, keramik, hingga benda-benda bersejarah yang berkaitan dengan perjuangan masyarakat Lampung pada berbagai masa.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung, Thomas Amirico, S.STP., M.H., menilai keberadaan museum tidak hanya penting sebagai tempat penyimpanan benda bersejarah, tetapi juga sebagai sarana pembelajaran yang memperkuat identitas daerah.
“Museum Lampung Ruwa Jurai merupakan rumah besar sejarah dan budaya Lampung. Di tempat ini, masyarakat dapat belajar tentang perjalanan peradaban, adat istiadat, serta kekayaan budaya yang dimiliki Provinsi Lampung,” ujarnya, Rabu (2/6/2026).
Menurut Thomas, museum memiliki fungsi strategis dalam membangun kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, tentang pentingnya menjaga warisan budaya di tengah perubahan zaman yang berlangsung cepat.
Di era digital saat ini, informasi dapat diperoleh hanya melalui layar gawai. Namun, pengalaman melihat langsung peninggalan sejarah tetap memiliki nilai yang tidak tergantikan. Melalui koleksi yang tersimpan di museum, pengunjung dapat memahami bagaimana masyarakat Lampung hidup, berkembang, dan membangun peradabannya dari masa ke masa.
Nama “Ruwa Jurai” yang melekat pada museum ini juga memiliki makna filosofis yang mendalam. Istilah tersebut berasal dari semboyan Provinsi Lampung, “Sai Bumi Ruwa Jurai”, yang mencerminkan persatuan masyarakat Lampung dalam keberagaman. Filosofi itu menjadi representasi semangat kebersamaan yang tumbuh dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat Lampung.
Lebih dari sekadar destinasi wisata budaya, Museum Lampung Ruwa Jurai menjadi ruang refleksi tentang pentingnya menjaga identitas daerah. Di balik etalase yang memajang benda-benda bersejarah, tersimpan cerita tentang perjalanan masyarakat, nilai-nilai kearifan lokal, dan warisan leluhur yang membentuk karakter Lampung hingga saat ini.
Thomas Amirico berharap museum dapat terus berkembang sebagai pusat edukasi budaya yang mampu menarik minat pelajar, mahasiswa, peneliti, hingga masyarakat umum.
“Kami mengajak masyarakat untuk berkunjung ke Museum Lampung, mengenal sejarah daerahnya, dan bersama-sama menjaga warisan budaya yang menjadi identitas serta kebanggaan masyarakat Lampung,” katanya.
Dengan sejarah panjang yang dimilikinya, Museum Lampung Ruwa Jurai bukan sekadar tempat menyimpan artefak masa lalu. Ia adalah penjaga ingatan, saksi perjalanan peradaban, sekaligus jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan Lampung. Di dalam museum itulah, identitas sebuah daerah terus dirawat dan diwariskan dari generasi ke generasi. (Adv)





















