Lampung Tengah, Tipikor News – Silaturahmi yang berlangsung hangat di kediaman mantan Bupati Lampung Tengah, Mustafa, Kamis (7/5) malam, menjadi lebih dari sekadar temu kangen.
Bagi Rosim Nyerupa, Direktur Eksekutif Pusat Kajian Politik dan Pemerintahan Daerah (Puskada) Lampung Tengah, pertemuan itu menjelma menjadi ruang refleksi sekaligus pembelajaran tentang kepemimpinan.
Rosim menilai, sosok Mustafa bukan hanya dikenal sebagai mantan kepala daerah, tetapi juga figur yang memiliki karakter kuat dalam memimpin. Ia bahkan menyebut Mustafa memiliki “DNA” pemimpin yang terbentuk dari pengalaman, ketegasan, dan kemampuan membaca dinamika daerah.
“Ini bukan sekadar nostalgia. Saya melihat langsung bagaimana seorang pemimpin berkomunikasi dengan tenang, terbuka, tetapi tetap tegas. Ada pengalaman panjang yang membentuk karakter itu,” ujar Rosim.
Sebagai aktivis pemuda asal Kampung Komering Nyerupa, Lampung Tengah, Rosim menegaskan bahwa silaturahmi tersebut menjadi momen penting bagi generasi muda untuk belajar langsung dari para pemimpin terdahulu.
Ia menyebut, pemuda tidak boleh hanya menjadi penonton dalam dinamika pembangunan. “Pemuda harus hadir sebagai agen perubahan. Bukan hanya kritis, tapi juga mampu menawarkan gagasan dan solusi nyata,” tegas alumnus FISIP Universitas Lampung tersebut.
Dalam pandangan Rosim, gaya kepemimpinan Mustafa memiliki ciri khas yang kuat, terutama dalam membangun komunikasi dan kedekatan dengan masyarakat. Ia mengingat bagaimana program ronda atau poskamling menjadi salah satu pendekatan untuk memperkuat keamanan berbasis masyarakat.
“Sejak dulu saya melihat beliau aktif turun ke lapangan. Itu yang jarang dimiliki banyak pemimpin. Ada keberanian, ada kedekatan, dan ada arah yang jelas,” tambahnya.
Diketahui, Mustafa memimpin Lampung Tengah pada periode 2016–2018, setelah sebelumnya menjabat sebagai Wakil Bupati pada 2010–2015. Dalam masa kepemimpinannya, ia memprioritaskan tiga sektor utama, yakni keamanan, infrastruktur, dan pelayanan publik.
Sejumlah program strategis pun digulirkan, mulai dari penguatan sistem keamanan lingkungan melalui poskamling, peningkatan profesionalitas Satpol PP, hingga integrasi layanan kesehatan.
Di sektor ekonomi, program minapolitan turut mendorong produksi ikan air tawar yang melibatkan ribuan kepala keluarga.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Lampung Tengah mengalami peningkatan dari 68,33 pada 2016 menjadi 70,04 pada 2019. Capaian tersebut menempatkan Lampung Tengah dalam kategori “tinggi” serta masuk empat besar di Provinsi Lampung.
Selain itu, tingkat kemiskinan juga menunjukkan tren penurunan secara bertahap, yang mengindikasikan adanya dampak kebijakan pembangunan terhadap kesejahteraan masyarakat, meskipun berlangsung secara gradual.
Namun demikian, Rosim menilai bahwa membaca kepemimpinan Mustafa tidak cukup hanya dari capaian angka. Ia menyebut, periode tersebut juga diwarnai dinamika kebijakan yang kuat, termasuk keberanian dalam mendorong percepatan pembangunan.
“Gaya kepemimpinan seperti ini penting untuk dipelajari. Karena ke depan, estafet kepemimpinan akan sampai pada generasi kami. Yang dibutuhkan bukan hanya semangat, tetapi juga kedewasaan dan keteguhan dalam mengambil keputusan,” ungkapnya.
Rosim pun menutup dengan menegaskan bahwa pengalaman adalah guru terbaik. Baginya, belajar dari pemimpin terdahulu merupakan bagian penting dalam mempersiapkan diri menghadapi tantangan masa depan.
“Setiap pemimpin punya gaya masing-masing. Dan itu bisa menjadi referensi bagi kami, termasuk gaya kepemimpinan Bang Mustafa,” pungkasnya. (Tim)





















