Lampung Timur, Tipikor.news  — Di bawah langit cerah Lampung Timur, deru mesin pertanian baru terdengar untuk pertama kalinya di halaman Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan. Suara itu bukan sekadar bunyi logam dan roda, melainkan gema harapan bagi ratusan petani yang selama ini berjuang dengan alat seadanya.
Kepala Dinas, Tri Wibowo, berdiri tegak di hadapan para petani dengan semangat yang membara. Ia menegaskan bahwa bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) ini bukan hanya program tahunan, tetapi langkah strategis menuju kemandirian pangan daerah.
“Petani Lampung Timur harus berani meninggalkan cara lama. Dengan alsintan, kita bisa mempercepat tanam, memperpendek masa panen, dan meningkatkan hasil produksi,” ujarnya lantang, disambut tepuk tangan penuh semangat.
Di antara kerumunan, tampak wajah-wajah petani yang tak kuasa menahan haru. Beberapa menatap alat pertanian baru mereka dengan mata berkaca-kaca.
Bagi mereka, mesin-mesin itu bukan sekadar besi dan roda — melainkan simbol perubahan, janji masa depan, dan bukti bahwa perjuangan mereka tidak sia-sia.
Salah satu petani, dengan suara bergetar, berbisik lirih, “Selama ini kami hanya bermimpi punya alat seperti ini. Sekarang, mimpi itu jadi nyata.”
Diberitakan sebelumnya Petani Lampung Timur Menyambut Harapan Baru: Azwar Hadi Serahkan Alsintan untuk Revolusi Pertanian.
Langit Lampung Timur tampak cerah ketika deru mesin pertanian menggema di halaman kantor kabupaten, Selasa (9/12). Di tengah sorak gembira para petani, Wakil Bupati Lampung Timur, Azwar Hadi, menyerahkan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) — simbol nyata dari tekad pemerintah daerah untuk mengubah wajah pertanian tradisional menjadi lebih modern dan produktif.
“Bantuan alsintan ini kami berikan untuk mempermudah kerja petani, mempercepat proses pengolahan lahan, dan meningkatkan hasil panen,” ujar Azwar dengan nada tegas namun penuh harap.
Di hadapan para petani yang sebagian besar datang dari pelosok desa, ia menegaskan bahwa pertanian adalah nadi kehidupan Lampung Timur, dan pemerintah tidak akan tinggal diam melihat jerih payah petani yang selama ini berjuang dengan alat seadanya.
Azwar menatap barisan petani yang berdiri tegak di bawah terik matahari.
“Gunakan alat ini dengan bijak, rawat, dan manfaatkan bersama. Jangan biarkan bantuan ini hanya menjadi pajangan. Jadikan ia senjata untuk menaklukkan tantangan pangan,” katanya, disambut tepuk tangan meriah.
Di sisi lain, Kepala Kejaksaan Negeri Lampung Timur, Pofrizal, turut hadir memberikan pesan tegas. “Bantuan seperti ini harus dikelola secara transparan dan tepat sasaran. Kami siap mengawal agar tidak ada penyimpangan.
Bantuan ini adalah amanah rakyat, bukan milik pribadi,” ujarnya lantang, menegaskan komitmen penegakan integritas di sektor pertanian. (Tim)




















