Pesawaran, Tipikor News – Suasana berbeda tampak di halaman UPTD Pengelolaan Pendapatan Wilayah VIII Kabupaten Pesawaran pada Sabtu pagi, 18 April 2026.
Di tengah rutinitas pelayanan administrasi yang biasanya berlangsung di balik meja, para pegawai justru berkumpul di ruang terbuka, menggenggam cangkul dan bibit tanaman.
Tanah digali, lubang-lubang disiapkan, lalu satu per satu pohon buah ditanam.
Kegiatan itu berlangsung sederhana, tanpa seremoni berlebihan, namun menyimpan makna yang lebih dalam dari sekadar agenda rutin.
Kepala UPTD, Diona Katharina, terlihat ikut terlibat langsung dalam proses penanaman. Ia tidak hanya memantau, tetapi juga turun tangan, menyatu dengan pegawai lainnya yang bekerja secara gotong royong.
“Ini adalah langkah kecil, tetapi penting. Kami ingin menghadirkan lingkungan kerja yang tidak hanya produktif, tetapi juga sehat dan berkelanjutan,” ujarnya.
Jenis tanaman yang dipilih bukan tanpa alasan. Pohon buah dinilai mampu memberikan manfaat ganda—menghadirkan keteduhan sekaligus potensi hasil di masa depan.
Namun lebih dari itu, penanaman ini menjadi simbol perubahan cara pandang terhadap lingkungan kerja.
Di sela aktivitas yang biasanya diisi dengan berkas dan pelayanan publik, kegiatan ini menjadi semacam jeda.
Para pegawai, tanpa sekat jabatan, bekerja dalam ritme yang sama. Tangan yang biasa memegang dokumen, hari itu menyentuh tanah.
Di Kabupaten Pesawaran, langkah kecil seperti ini kerap dipandang sepele. Namun dalam konteks yang lebih luas, ia menjadi pengingat bahwa menjaga lingkungan tidak selalu menunggu program besar atau anggaran besar.
Ia bisa dimulai dari ruang terdekat—halaman kantor sendiri. Pohon-pohon yang kini berdiri mungkin masih kecil. Namun waktu akan menjadi saksi apakah gerakan ini berhenti sebagai kegiatan sesaat, atau tumbuh menjadi kebiasaan yang berkelanjutan.
Di situlah makna sesungguhnya dari upaya penghijauan ini diuji: bukan pada saat ditanam, tetapi pada bagaimana ia dirawat. (Red)




















