Bandar Lampung, Tipikor News — Riuh itu tak kasatmata, tapi terasa. Datangnya dari layar-layar kecil di genggaman: notifikasi tak henti, arus informasi yang deras, dan percakapan yang kian bising.
Di tengah situasi itu, Pemerintah Daerah mencoba menarik jeda—menghadirkan ruang dialog, meski hanya sejenak.
Di forum bertema “Merajut Dialog di Tengah Deru Disrupsi”, nama Ganjar Jationo muncul sebagai penanda arah.
Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik Provinsi Lampung itu tak banyak retorika.
Pesannya sederhana, tapi mengandung beban zaman: masyarakat harus lebih bijak, lebih adaptif, dan tak mudah larut dalam derasnya arus digital.
Disrupsi, dalam pengertian Ganjar, bukan sekadar perubahan teknologi. Ia adalah perubahan cara berpikir—cara menerima, memilah, dan menyampaikan informasi. Di titik inilah literasi digital menjadi krusial.
Tanpa itu, publik berisiko menjadi sekadar penonton, bahkan korban, dari informasi yang tak selalu benar.
Diskusi dipandu oleh Tiara Wahyuni. Ia menjaga ritme percakapan tetap hidup, mengalirkan pertanyaan demi pertanyaan yang memantik refleksi.
Lihat Video: Merajut Nalar di Tengah Bising Digital
Bukan sekadar forum seremonial, dialog ini mencoba menembus lapisan yang lebih dalam: bagaimana masyarakat bisa tetap waras di tengah banjir informasi.
Di balik forum itu, ada kegelisahan yang sama: ruang digital yang kian padat, namun tak selalu sehat. Informasi datang tanpa saringan, opini berseliweran tanpa pijakan.
Dalam situasi seperti ini, etika komunikasi menjadi barang langka—dan justru paling dibutuhkan.
Pemerintah daerah tampaknya menyadari itu. Upaya menghadirkan dialog bukan sekadar program rutin, melainkan sinyal bahwa literasi digital tak bisa lagi ditunda.
Sebab di era ini, kemampuan membaca realitas tak lagi cukup—yang dibutuhkan adalah kemampuan membedakan mana fakta, mana sekadar gema.
Dan di tengah bising itu, pesan yang tersisa sederhana: jika tak mampu menghentikan arus, setidaknya belajar berenang dengan arah. (Red)




















