Advertising

Tahun Awal Kepemimpinan Mirza–Jihan, Fondasi Ditegakkan di Tengah Keraguan

216
×

Tahun Awal Kepemimpinan Mirza–Jihan, Fondasi Ditegakkan di Tengah Keraguan

Sebarkan artikel ini

Kaleidoskop Pembangunan Lampung 2025: Dari Jalan Retak ke Harapan Baru

Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal didampingi Wakil Gubernur Jihan Nurlela dan Sekda Marindo Kurniawan memaparkan capaian serta arah pembangunan Provinsi Lampung tahun 2025 dalam kegiatan Kaleidoskop Pembangunan di Mahan Agung. Tahun awal kepemimpinan Mirza–Jihan ditegaskan sebagai fase penataan fondasi menuju Lampung Maju dan berdaya saing.

Bandar Lampung, Tipikor.news – Sore itu, langit di atas Mahan Agung seolah ikut menahan napas. Minggu, 28 Desember 2025, bukan sekadar agenda penutup tahun. Ia menjadi panggung evaluasi, pengakuan, sekaligus penegasan arah masa depan Lampung.

Di hadapan pejabat, insan pers, akademisi, dan masyarakat sipil, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal berdiri tegak. Suaranya tegas. Tatapannya lurus. Tahun 2025, kata dia, bukan tahun pencitraan. Ini adalah tahun membangun pondasi.

Didampingi Wakil Gubernur Jihan Nurlela dan Sekretaris Daerah Marindo Kurniawan, Gubernur Mirza membuka Kaleidoskop Pembangunan Provinsi Lampung 2025 dengan satu kalimat yang langsung menghentak: “Lampung kaya, tapi belum sejahtera.”

Lampung Kaya, Tapi Uangnya Mengalir Keluar

Data yang dipaparkan Gubernur Mirza bukan data manis. Justru sebaliknya—menampar kesadaran.

Nilai komoditas Lampung mencapai Rp140 triliun per tahun, namun mayoritas keluar daerah dalam bentuk bahan mentah. Dengan PDRB Rp483 triliun, secara teori setiap warga Lampung bisa menikmati pendapatan sekitar Rp4 juta per bulan. Namun realitas berkata lain.

Kemiskinan masih bertahan di kisaran 10 persen, dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) belum menembus target nasional.
“Di sinilah masalahnya,” tegas Mirza.

“Kita kuat di hulu, lemah di hilir.”

Jalan Retak, Ekonomi Tertahan
Sorotan paling tajam diarahkan pada infrastruktur jalan—urat nadi pergerakan ekonomi rakyat. Melalui program BMBK, Pemprov Lampung merekonstruksi, merehabilitasi, dan melebarkan 52 ruas jalan provinsi sepanjang 66,209 kilometer.

Tak hanya itu, 21 jembatan dengan total panjang 451,36 meter dibangun dan diperbaiki.

Cuaca ekstrem, medan berat, hingga tantangan teknis tak menghentikan proyek. Dua jembatan memang belum rampung, namun bukan karena mangkrak—melainkan demi menjaga mutu dan keselamatan konstruksi.

Hasilnya mulai terasa.

Survei November 2025 mencatat kemantapan jalan provinsi naik menjadi 79,79 persen, sementara degradasi jalan anjlok ke 2,25 persen.

Target berikutnya ambisius namun terukur:
90 persen jalan provinsi mantap pada 2027–2028, mayoritas dengan konstruksi beton.

Lampung Disambungkan: Darat, Laut, dan Udara

Pembangunan tak berhenti di aspal. Di laut, Bakauheni–Merak tetap menjadi nadi strategis nasional. Menghadapi Natal dan Tahun Baru, 47 kapal disiapkan oleh BUMD Provinsi Lampung bersama mitra operator.

Di udara, Bandara Radin Inten II diperkuat menuju bandara internasional, sementara Bandara Gatot Subroto Way Kanan direaktivasi. Lampung tak lagi sekadar wilayah lintasan. Lampung mulai diposisikan sebagai simpul konektivitas nasional.

Desa Kumaju: Ekonomi Rakyat Digedor dari Akar

Pembangunan versi Pemprov Lampung tidak hanya berwajah beton. Melalui program Desa Kumaju, ekonomi desa digerakkan dari bawah—pertanian, peternakan, perikanan, UMKM, hingga pariwisata.

Sepanjang 2025: 500 unit pusat produksi pupuk organik cair dibangun, Menjangkau 190.000 petani, Mengelola lahan 175.788 hektare dan Berdampak pada 477.000 jiwa.

Ketergantungan pupuk kimia ditekan 30 persen, produktivitas naik 25 persen. Di sektor hilir, 34 unit bed dryer dibangun di 34 desa, menekan kehilangan hasil panen hingga 7 persen.

“Ini bukan sekadar program, Ini perubahan cara berpikir.” kata Gubernur Mirza.

Harga Dijaga, Daya Beli Diselamatkan
Di tengah gejolak ekonomi nasional, Lampung menjaga stabilitas. Melalui TPID, pemantauan harga rutin dilakukan di 15 kabupaten/kota. Operasi pasar digelar menjelang hari besar keagamaan.

Hasilnya, hingga akhir Desember 2025, inflasi Lampung termasuk yang terendah secara nasional.

Harga minyak goreng dijaga tetap rendah—memberi napas bagi rumah tangga dan pelaku usaha kecil.

SDM, Pendidikan, dan Kesempatan Kedua
Pendidikan menjadi medan perjuangan lain.

Pemprov Lampung membebaskan uang komite bagi siswa SMA, SMK, dan SLB Negeri melalui BOPD. Program Sekolah Rakyat mulai berjalan untuk anak-anak dari keluarga miskin ekstrem.

Sebanyak 23.000 ijazah yang sempat tertahan berhasil dibebaskan—membuka kembali pintu masa depan.

Di sisi lain, Kelas Migran Vokasi menyiapkan lulusan SMA/SMK bekerja ke Jepang. Tahun 2025, 137 siswa telah mengikuti program ini.

Kesehatan dan Digitalisasi: Pelayanan Dipaksa Berubah

Di sektor kesehatan, inovasi diluncurkan:
Klinik Berhenti Merokok, Klinik Nyeri dan Paliatif, hingga layanan shuttle bus kesehatan. Penanganan TBC diperkuat dengan Active Case Finding, capaian mencapai 60 persen dari target.

RSUD Mohammad Thohir di Pesisir Barat diresmikan sebagai RS rujukan tipe C wilayah terluar.

Sementara itu, layanan publik didorong masuk era digital melalui super app “Lampung In”.

Hingga Desember 2025: 14.000+ unduhan dan 588 laporan masyarakat tertampung.

Tahun Penataan, Bukan Panggung Pujian

Menutup acara, Gubernur Mirza tak mengklaim kesempurnaan. “Tahun ini bukan tentang hasil akhir. Ini tentang arah. Tentang pondasi,” ujarnya.

Diskusi terbuka pun digelar. Kritik, saran, dan apresiasi mengalir dari insan pers dan pegiat media, dipandu langsung oleh Sekda Marindo Kurniawan.

Menutup forum, Sekda menegaskan: “Pondasi telah dibangun. Arah semakin jelas. Izinkan kami melanjutkan kerja di 2026 dan seterusnya, dengan kolaborasi kuat bersama media yang berpihak kepada rakyat.”

Lampung belum tiba di tujuan. Namun, langkah pertama telah diambil. Lampung Maju. Perjalanan menuju Indonesia Emas baru dimulai. (Tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *