Korupsi

Proyek Rp1 Miliar di Terminal Rajabasa Dikerjakan Saat Hujan, K3 Diabaikan, Pengawasan Dipertanyakan

96
×

Proyek Rp1 Miliar di Terminal Rajabasa Dikerjakan Saat Hujan, K3 Diabaikan, Pengawasan Dipertanyakan

Sebarkan artikel ini

Bandar Lampung, Tipikor.news — Hujan deras mengguyur kawasan Terminal Tipe A Rajabasa. Di tengah guyuran air dan kilatan petir, seorang pekerja tampak berdiri di atas atap gedung terminal Tanpa alas kaki.

Tanpa helm. Tanpa rompi keselamatan. Hanya berbalut kaos tipis dan celana pendek, tubuhnya basah kuyup, sementara di bawahnya, kabel listrik terbuka menjuntai, siap mematikan siapa pun yang lengah.

Tak ada tanda penghentian kerja. Tak ada pengawas yang terlihat. Tak ada perlindungan bagi nyawa yang sedang bertaruh di ketinggian.

Pemandangan berisiko itu menjadi awal dari kisah kelam proyek Rehabilitasi Plafon Gedung AKAP Terminal Tipe A Rajabasa, proyek bernilai Rp1.000.329.541 yang dibiayai DIPA Tahun Anggaran 2025 di bawah Kementerian Perhubungan RI, Direktorat Jenderal Perhubungan Darat, melalui Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Kelas II Lampung.

Berdasarkan papan proyek, pekerjaan dilaksanakan oleh CV Sanubari Jaya Mandiri dengan pengawasan CV Baahirah Konsultan, dan ditargetkan selesai dalam 60 hari kalender. Namun, di lapangan, kenyataan berbicara lain: keselamatan diabaikan, mutu dipertanyakan, dan pengawasan nyaris tak terlihat.

Ketika hujan mengguyur deras, tim awak media yang berada di bawah bangunan sempat memperingatkan pekerja agar menghentikan aktivitasnya.

“Turun bang, turun, ini masih hujan, nanti kesetrum,” teriak salah satu anggota tim media.

Namun, peringatan itu hanya menggema di antara suara hujan dan denting logam. Pekerja tetap melanjutkan pekerjaannya, seolah keselamatan bukan lagi prioritas.

Ironisnya, papan proyek di bawah bangunan justru penuh dengan rambu bahaya: peringatan tegangan listrik tinggi, bahan mudah terbakar, dan larangan tanpa APD. Rambu ada, tapi nyawa tetap dipertaruhkan.

Masalah tak berhenti di situ. Salah satu gedung yang disebut telah selesai direhabilitasi justru bocor parah. Air hujan menetes dari langit-langit, mengalir ke lantai, menggenangi area tempat pedagang berjualan.

“Gimana ini bocor semua, bisa kepeleset orang. Udah hampir dua bulan kayak gini,” keluh seorang pedagang dengan nada kesal.
“Waktu itu dagangan saya basah semua. Saya udah marah-marah itu sama kantornya. Lihat ini, hujan gini.”

Selain kebocoran, awak media juga menemukan rangka baja ringan yang tampak tidak seragam dan diduga bukan material baru. Beberapa bagian terlihat berkarat, seolah diambil dari sisa proyek lama.

Pertanyaan pun muncul: apakah proyek bernilai miliaran rupiah ini benar-benar dikerjakan sesuai spesifikasi kontrak?
Upaya konfirmasi langsung di lokasi tak membuahkan hasil.

Beberapa orang yang berada di area proyek memilih meninggalkan lokasi ketika dimintai keterangan. Mereka hanya menyebut satu nama: Budi, penanggung jawab proyek di lapangan. Namun, sosok itu tak kunjung muncul.

Pengawasan yang Hilang di Tengah Hujan
Dalam dunia konstruksi, pengawasan adalah mata dan telinga negara. Konsultan pengawas bertugas memastikan setiap paku, setiap kabel, setiap langkah pekerja sesuai standar keselamatan dan mutu. Namun, di Terminal Rajabasa, mata itu seolah tertutup.

Berdasarkan papan proyek, pengawasan dilakukan oleh CV Baahirah Konsultan. Tapi di lapangan, tak ada tanda kehadiran pengawas. Tak ada yang menghentikan pekerjaan di tengah hujan. Tak ada yang memastikan pekerja mengenakan alat pelindung diri.

Apakah pengawas tidak berada di lokasi? Ataukah pelanggaran ini sengaja dibiarkan? Pertanyaan itu menggantung di udara, tanpa jawaban.

Kelalaian pengawasan bukan sekadar pelanggaran administratif. Ia adalah bom waktu yang bisa meledak kapan saja—mengancam nyawa pekerja, merugikan masyarakat, dan mencoreng akuntabilitas penggunaan anggaran negara.

Proyek bernilai miliaran rupiah ini seharusnya menjadi simbol peningkatan layanan publik. Namun, yang tampak justru potret buram pembangunan: rambu keselamatan yang diabaikan, mutu yang diragukan, dan pengawasan yang hilang di tengah hujan.

Sementara air terus menetes dari plafon yang baru direhabilitasi, satu pertanyaan menggema di Terminal Rajabasa: Siapa yang akan bertanggung jawab ketika nyawa dan uang rakyat dipertaruhkan di bawah atap bocor bernilai miliaran rupiah ini? (Andi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *