Kota Metro, Tipikor.news โ Pemerintah Kota Metro mencatat capaian positif dalam upaya penanganan dan pengendalian stunting. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Metro, prevalensi stunting menunjukkan tren penurunan konsisten selama lima tahun terakhir, dari 9,91 persen pada 2020 menjadi 3,45 persen pada 2024.
Capaian ini menempatkan Kota Metro sebagai salah satu daerah dengan kemajuan signifikan dalam penurunan stunting di Provinsi Lampung.
Penurunan tersebut merupakan hasil dari pelaksanaan berbagai intervensi gizi spesifik dan sensitif yang dilakukan secara berkelanjutan. Program yang dijalankan meliputi pemberian Vitamin A, Tablet Tambah Darah (TTD) bagi remaja putri dan ibu hamil, Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berbasis pangan lokal bagi balita gizi kurang dan ibu hamil Kekurangan Energi Kronis (KEK), hingga penyuluhan dan sosialisasi Pemberian Makanan Bayi dan Anak (PMBA).
Selain itu, pemantauan pertumbuhan balita melalui kegiatan SDIDTK di posyandu juga terus diperkuat. Meski demikian, pemerintah daerah mengakui masih terdapat tantangan, terutama terkait kesadaran sebagian orang tua untuk membawa balita ke posyandu secara rutin serta penerapan pola makan bergizi seimbang di tingkat keluarga.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Metro, Dr. Fitri Agustina, menyampaikan bahwa capaian tersebut merupakan hasil kerja kolaboratif antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat.
โPenurunan prevalensi stunting ini menunjukkan bahwa intervensi yang kita lakukan berjalan efektif. Namun, upaya pencegahan harus terus diperkuat agar angka stunting tetap rendah dan tidak kembali meningkat di masa mendatang,โ ujar dr. Fitri, Selasa (24/2/2026).
Ia menambahkan, peningkatan layanan kesehatan ibu dan anak menjadi fondasi utama dalam pencegahan stunting. Hal ini tercermin dari capaian indikator kesehatan ibu tahun 2024, di mana pelayanan kunjungan ibu hamil (K1, K4, K6), persalinan di fasilitas kesehatan, pelayanan nifas, pemberian vitamin A, imunisasi Td2+, serta konsumsi 90 tablet tambah darah oleh ibu hamil menunjukkan cakupan yang sangat baik.
Menurut Dr. Fitri Agustina, keberhasilan menekan angka stunting juga tidak lepas dari meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya ASI eksklusif, perbaikan pola asuh, serta akses layanan kesehatan yang semakin merata melalui puskesmas dan posyandu.
โStunting bukan hanya persoalan tinggi badan anak, tetapi menyangkut kualitas sumber daya manusia di masa depan. Karena itu, komitmen lintas sektor dan partisipasi aktif masyarakat menjadi kunci keberlanjutan program ini,โ tegasnya.
Pemerintah Kota Metro menegaskan bahwa penanganan stunting tetap menjadi isu strategis dalam perencanaan pembangunan daerah. Melalui Rancangan Akhir RKPD Tahun 2026, berbagai program penguatan gizi, kesehatan ibu dan anak, serta edukasi masyarakat akan terus dilanjutkan guna memastikan generasi Kota Metro tumbuh sehat, cerdas, dan berdaya saing. (Red)


















