Scroll untuk baca artikel
Lampung

Korve Massal BPKAD Lampung, Simbol Kekompakan atau Awal Perubahan?

38
×

Korve Massal BPKAD Lampung, Simbol Kekompakan atau Awal Perubahan?

Sebarkan artikel ini

Bandar Lampung, Tipikor News — Pagi itu, halaman dan ruangan kantor Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Provinsi Lampung tampak lebih hidup dari biasanya. Sapu, kain lap, dan alat kebersihan berpindah tangan—dari staf hingga pejabat. Tak ada sekat. Semua terlibat dalam satu kegiatan: korve massal.

Kegiatan yang kerap dipandang sebagai rutinitas sederhana ini, mendadak memiliki makna lebih. Di tengah tuntutan publik terhadap birokrasi yang bersih dan profesional, aksi bersih-bersih ini seperti mengirim pesan simbolik: perubahan bisa dimulai dari hal paling dasar.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala BPKAD Provinsi Lampung, Nurul Fajri, menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar menjaga kebersihan fisik lingkungan kerja. Lebih dari itu, korve menjadi sarana membangun kebersamaan dan rasa tanggung jawab kolektif.

“Kebersihan mencerminkan kepedulian, kekompakan, dan saling menghargai. Lingkungan kerja yang tertata akan mendorong semangat dalam memberikan pelayanan terbaik,” ujar Nurul Fajri, Jumat (10/4/2026).

Namun, di balik gerakan serentak itu, muncul pertanyaan yang lebih besar: apakah ini hanya simbol kekompakan, atau benar-benar menjadi awal perubahan budaya kerja?

BPKAD bukan sekadar instansi biasa. Lembaga ini memegang peran strategis dalam mengelola keuangan daerah—wilayah yang kerap menjadi sorotan publik.

Karena itu, makna “bersih” seharusnya tidak berhenti pada lantai yang kinclong atau meja yang rapi, melainkan merembet hingga pada tata kelola anggaran yang transparan dan akuntabel.

Sejumlah pegawai mengakui, kegiatan seperti ini jarang dilakukan secara menyeluruh. Biasanya, urusan kebersihan diserahkan kepada petugas khusus. Namun kali ini berbeda. Semua turun tangan, menciptakan suasana kebersamaan yang jarang terlihat dalam rutinitas birokrasi.

Pengamat menilai, langkah kecil seperti ini bisa menjadi pintu masuk bagi perubahan yang lebih besar—asal konsisten. Lingkungan kerja yang bersih dan tertata diyakini dapat membentuk pola pikir yang lebih disiplin dan sistematis.

Tapi tanpa komitmen yang lebih dalam, ia berisiko berhenti sebagai seremoni.
Korve massal itu mungkin hanya berlangsung beberapa jam.

Tapi pertanyaan yang tertinggal jauh lebih panjang: apakah semangat bersih-bersih ini akan berlanjut hingga ke cara kerja dan pengelolaan anggaran?

Jika ya, ini bisa menjadi awal perubahan. Jika tidak, ia hanya akan menjadi catatan kecil—yang perlahan terlupakan, seiring debu kembali menempel di sudut-sudut ruangan. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *