Pendidikan

Insentif Rp400 Ribu untuk Guru Honorer 2026 Jadi Harapan Baru, Disdikbud Lampung Masih Menunggu Kepastian Pusat

88
×

Insentif Rp400 Ribu untuk Guru Honorer 2026 Jadi Harapan Baru, Disdikbud Lampung Masih Menunggu Kepastian Pusat

Sebarkan artikel ini

Bandar Lampung, Tipikor.news β€” Harapan ribuan guru honorer di Provinsi Lampung perlahan menguat. Setelah bertahun-tahun mengabdi dengan penghasilan minim, secercah kabar baik datang dari pemerintah pusat.

Insentif sebesar Rp400 ribu per bulan yang dijanjikan untuk tahun anggaran 2026 dinilai menjadi angin segar bagi para pendidik non-ASN yang selama ini setia menjaga denyut pendidikan di pelosok daerah.

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Lampung menyambut positif kebijakan tersebut. Namun di balik optimisme itu, terselip sikap kehati-hatian.

Kepala Disdikbud Lampung, Thomas Amirico, menegaskan pihaknya belum bisa melangkah jauh sebelum aturan resmi dan petunjuk teknis (juknis) dari pemerintah pusat benar-benar turun.

β€œKami tentu menyambut baik kebijakan ini. Tapi untuk teknis penyalurannya, kami masih menunggu regulasi dan juknis dari pusat. Tidak bisa berspekulasi,” ujar Thomas, Rabu (27/1/2026).

Kebijakan insentif ini merupakan tindak lanjut keputusan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti yang mengalokasikan bantuan Rp400 ribu per bulan bagi 798.905 guru honorer di seluruh Indonesia.

Bagi para guru honorer, kebijakan ini bukan sekadar angka, melainkan pengakuan atas dedikasi panjang yang kerap luput dari perhatian.

Di Provinsi Lampung sendiri, peran guru honorer sangat signifikan. Berdasarkan data resmi Dapodik Kementerian Pendidikan, Lampung memiliki sekitar 117 ribu guru pada semester genap tahun ajaran 2025/2026, terdiri dari ASN dan non-ASN, yang tersebar dari jenjang PAUD hingga pendidikan menengah.

Di balik angka itu, terdapat ribuan guru honorer yang tetap berdiri di depan kelas meski kesejahteraan mereka kerap berada di titik paling rapuh.

Thomas menegaskan, akurasi data menjadi kunci utama agar kebijakan ini benar-benar menyentuh mereka yang berhak. Kesalahan administrasi, menurutnya, justru bisa melukai harapan yang telah terlanjur tumbuh.

β€œKalau kesiapan, kita siapkan datanya. Supaya ketika aturannya sudah turun, penyalurannya tepat sasaran dan tidak menimbulkan masalah,” tegasnya.

Sementara proses birokrasi masih berjalan, Disdikbud Lampung meminta para guru honorer untuk bersabar. Di tengah ketidakpastian, Thomas berharap para pendidik tetap menjaga semangat pengabdian dan terus memberikan layanan pendidikan terbaik bagi generasi penerus bangsa.

Di ruang-ruang kelas sederhana, harapan itu kini menggantung. Rp400 ribu mungkin tak sebanding dengan jerih payah bertahun-tahun, namun bagi guru honorer, kebijakan ini adalah sinyal bahwa pengabdian mereka akhirnya mulai dilihat dan diakui. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *