Lampung

Gubernur Lampung Canangkan “Hari Kamis Beradat”: Seruan Menggema untuk Menghidupkan Kembali Jiwa Budaya Lampung

107
×

Gubernur Lampung Canangkan “Hari Kamis Beradat”: Seruan Menggema untuk Menghidupkan Kembali Jiwa Budaya Lampung

Sebarkan artikel ini

Bandar Lampung, Tipikor.news – Suara langkah perubahan bergema dari bumi Sai Bumi Ruwa Jurai. Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, menorehkan sejarah baru dengan menerbitkan instruksi Gubernur (Ingub) Nomor 4 Tahun 2025 tentang Hari Kamis Beradat.

Sebuah kebijakan yang bukan sekadar aturan administratif, melainkan panggilan jiwa untuk menghidupkan kembali denyut kebudayaan Lampung yang kian tergerus zaman.

Ditandatangani pada 30 Desember 2025, Ingub ini menjadi simbol tekad pemerintah provinsi dalam melestarikan bahasa, busana, dan nilai-nilai luhur adat Lampung.

Setiap hari Kamis, seluruh jajaran pemerintahan dan lembaga pendidikan diwajibkan berbahasa Lampung dan berpakaian batik khas Lampung—sebuah langkah yang menggugah rasa bangga terhadap identitas daerah.

Instruksi ini menggema hingga ke pelosok: dari Sekretaris Daerah Provinsi, Bupati dan Wali Kota se-Lampung, hingga pimpinan instansi vertikal dan perguruan tinggi.

Tak hanya di ruang-ruang birokrasi, gema “Kamis Beradat” juga akan terdengar di ruang kelas, di mana para guru dan siswa diajak berinteraksi dalam bahasa ibu mereka sendiri—bahasa yang menyimpan sejarah, nilai, dan kebijaksanaan leluhur.

Dalam diktum kesatu, Gubernur menegaskan bahwa Hari Kamis Beradat bukan sekadar seremoni. Bahasa Lampung harus menjadi bahasa utama dalam pelayanan publik, rapat dinas, dan komunikasi antarpegawai.

Sementara diktum kedua menegaskan kewajiban seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk mengenakan batik khas Lampung, simbol keanggunan dan kebanggaan daerah.

“Ini bukan hanya tentang pakaian dan bahasa,” tegas Gubernur Rahmat Mirzani Djausal dalam arahannya. “Ini tentang jati diri. Tentang bagaimana kita, anak Lampung, berdiri tegak di tengah arus globalisasi tanpa kehilangan akar budaya.”

Kebijakan ini sejalan dengan visi Asta Cita Presiden Republik Indonesia serta Tiga Cita Gubernur dan Wakil Gubernur Lampung, yang menempatkan pelestarian budaya sebagai fondasi pembangunan manusia seutuhnya.

Kini, setiap Kamis di Lampung tak lagi sekadar hari kerja biasa. Ia menjadi hari kebangkitan budaya, hari di mana bahasa Lampung kembali terdengar di kantor-kantor pemerintahan, di ruang kelas, dan di hati masyarakatnya.

Sebuah langkah kecil dengan makna besar—menyatukan masa lalu, masa kini, dan masa depan dalam satu semangat: Lampung Beradat, Lampung Berjaya. (Tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *