Kita Metro, Tipikor.news – Kota Metro kembali diguncang sorotan publik. Kali ini bukan soal prestasi akademik, melainkan dugaan pembengkakan anggaran di enam sekolah menengah atas negeri: SMA Negeri 1 Metro, SMA Negeri 2 Metro, SMA Negeri 3 Metro, SMA Negeri 4 Metro, SMA Negeri 5 Metro, dan SMA Negeri 6 Metro.
Data dokumen yang diperoleh media menunjukkan sejumlah angka yang memicu tanda tanya besar: apakah ini sekadar kekeliruan administrasi, atau ada potensi kerugian negara?
SMAN 1 Metro: Lonjakan Anggaran Tanpa Penjelasan: Di SMAN 1 Metro, laporan realisasi biaya kegiatan pembelajaran dan ekstrakurikuler tercatat mencapai Rp234.006.000.
Namun, dokumen perencanaan awal menunjukkan angka yang jauh lebih rendah dibanding nilai realisasi. Pembengkakan disebut terjadi pada beberapa pos, di antaranya: Honor pembimbing ekstrakurikuler, Konsumsi workshop dan pelatihan siswa, Pengadaan perlengkapan pembelajaran.
“Beberapa pos biaya tampak bertambah signifikan tanpa keterangan yang jelas,” ungkap sumber internal yang juga menilai pertanggungjawaban anggaran kurang transparan.
Pertanyaannya: mengapa realisasi bisa melompat jauh dari rencana tanpa penjelasan rinci?
SMAN 2 Metro: Selisih Rp225 Juta Lebih
Laporan pemeliharaan sarana dan prasarana tahun 2025 di SMAN 2 Metro mencapai Rp399.660.150.
Dengan luas bangunan 2.807 m² dan asumsi Harga Satuan Bangunan (HSB) Rp3.100.000 per meter persegi, estimasi nilai bangunan sekitar Rp8,7 miliar.
Jika standar biaya pemeliharaan tahunan hanya 2% dari total nilai bangunan, maka kebutuhan wajar sekitar Rp174.034.000 per tahun.
Artinya, terdapat selisih sekitar Rp225.626.150 yang belum dijelaskan secara transparan. Angka ini bukan kecil. Ini setara dengan pembangunan beberapa ruang kelas baru.
SMAN 3 Metro: Dugaan Kerugian Rp70 Juta per Tahun: SMAN 3 Metro melaporkan realisasi pemeliharaan tahun 2025 sebesar Rp234.390.000.
Dengan total luas bangunan sekitar 2.644 m², estimasi biaya pemeliharaan maksimal seharusnya hanya sekitar Rp163.928.000 per tahun. Selisihnya? Sekitar Rp70.462.000.
Jika pola ini berulang tiap tahun, potensi kerugian negara bisa terakumulasi dalam jumlah signifikan.
SMAN 4, 5, dan 6 Metro: Angka Fantastis
SMAN 4 Metro: Rp328.561.390
SMAN 5 Metro: Rp300.293.300
SMAN 6 Metro: Rp198.321.025
SMAN 4 bahkan tercatat sebagai yang tertinggi dalam belanja pemeliharaan sarana dan prasarana di Kota Metro. Publik pun bertanya: apakah benar kebutuhan riil sekolah sebesar itu?
Pengembangan Perpustakaan: Potensi Mark-Up? Dugaan juga mengarah pada laporan pengembangan perpustakaan. Jika diasumsikan pengadaan 2.000 buku dengan harga rata-rata Rp75.000 per buku, maka total kebutuhan sekitar Rp150.000.000.
Jika laporan realisasi melebihi angka kewajaran tersebut tanpa spesifikasi jenis buku, penerbit, dan jumlah detail, maka patut diduga adanya potensi mark-up.
Dunia pendidikan seharusnya menjadi ruang suci yang jauh dari praktik manipulatif. Setiap rupiah yang bersumber dari uang rakyat adalah amanah.
Jika benar terdapat pembengkakan tanpa dasar yang jelas, maka ini bukan sekadar soal administrasi—ini menyangkut integritas pengelolaan dana publik.
Masyarakat kini menunggu langkah tegas aparat pengawasan internal, inspektorat, hingga aparat penegak hukum untuk melakukan audit menyeluruh.
Sebab jika dugaan ini terbukti, maka yang dirugikan bukan hanya negara—tetapi juga para siswa yang seharusnya menjadi penerima manfaat utama dari setiap anggaran pendidikan. Bersambung..




















