Pringsewu, Tipikornews – Persoalan sampah kian menjadi tantangan serius di Kabupaten Pringsewu. Setiap hari, timbulan sampah di wilayah ini mencapai sekitar 163 ton. Di sisi lain, kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bumi Ayu disebut telah melampaui daya tampung ideal. Kondisi ini menjadi alarm keras bahwa pola pengelolaan sampah harus segera bertransformasi.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pringsewu, dr. Ulin Noha, M.Kes, menegaskan bahwa persoalan sampah tidak bisa lagi dipandang sebagai urusan teknis semata. Dibutuhkan perubahan paradigma dan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
“Sampah bukan sekadar masalah, tetapi bisa menjadi berkah jika dikelola dengan benar. Kuncinya ada pada kesadaran dan partisipasi masyarakat,” tegas dr. Ulin.
Lihat Video: DLH Pringsewu Gaungkan “Sampah Jadi Berkah” – dr. Ulin Noha: Perubahan Dimulai dari Rumah
Menurutnya, sekitar 70 persen timbulan sampah berasal dari sektor rumah tangga. Artinya, solusi paling mendasar harus dimulai dari rumah. Pemilahan sampah organik dan anorganik, pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, hingga pemanfaatan kembali barang bekas menjadi langkah kecil yang berdampak besar jika dilakukan secara konsisten.
Melalui gerakan “Sampah Jadi Berkah”, DLH Pringsewu terus memperkuat program Bank Sampah berbasis masyarakat. Pembentukan bank sampah di tingkat RT dan dasawisma didorong agar masyarakat tidak hanya membuang, tetapi juga mengelola dan bahkan memperoleh nilai ekonomi dari sampah.
Selain penguatan bank sampah, DLH juga melakukan berbagai langkah strategis, di antaranya: Edukasi lingkungan di sekolah dan komunitas, Optimalisasi pengangkutan dan pengelolaan sampah, Kampanye pengurangan sampah plastik, dan Penguatan kolaborasi dengan stakeholder dan dunia usaha.
dr. Ulin menekankan, persoalan sampah bukan hanya berdampak pada estetika lingkungan, tetapi juga menyangkut kesehatan masyarakat.
Penumpukan sampah berpotensi memicu pencemaran air dan udara, berkembangnya vektor penyakit, hingga memperparah risiko banjir akibat tersumbatnya saluran drainase.
“Kalau kita ingin Pringsewu bersih dan sehat, perubahan itu harus dimulai dari rumah kita sendiri. Pemerintah akan terus hadir dengan program dan fasilitas, tetapi keberhasilan sangat bergantung pada komitmen bersama,” ujarnya.
Gerakan “Sampah Jadi Berkah” diharapkan menjadi momentum kebangkitan kesadaran kolektif. Bahwa di balik tumpukan sampah, tersimpan peluang ekonomi, lapangan kerja, dan lingkungan yang lebih lestari—asal dikelola dengan niat dan sistem yang tepat.
Kini, tantangannya bukan lagi sekadar mengangkut sampah, melainkan membangun budaya baru: memilah, mengurangi, dan memanfaatkan. Dari rumah, untuk Pringsewu yang lebih bersih dan berkelanjutan. (red)




















